Langsung ke konten utama
Di likungan pendidikan di Sekolah murid-murid dibentuk untuk menjadi seorang yang memiliki cita-cita tinggi, ada yang ingin menjadi polisi, tentara, dokter, pengusaha dll. Begitu amat besar kepercayaan seorang murid bahwa dunia dapat dikendalikan dengan mudah.
Sekolah telah usai bermain adalah salah satu usaha untuk mengobati "kejenuhan belajar", bagai mana tidak belajar itu menguras otak dan membuat kepenatan dalam pribadi mereka. PR yang seharusnya mereka kerjakan dirumah malah mereka kerjakan di sekolah, atau mengerjakan di waktu yang mepet, sehingga pekerjaan mereka tidak maksimal karna terburu-buru.

"JIKA KAMU TAK MAMPU MENAHAN LELAHNYA BELAJAR, MAKA KAMU HARUS SANGGUP MENAHAN PERIHNYA KEBODOHAN"

Sebuah pemikiran kelasik dari seseorang yang membuat dirinya terbelenggu dalam rasa penyesalan adalah menunda-nunda pekerjaan atau sesuatu yang akan ia lakukan. Kita tidak pernah sadar bahwa hal yang paling berharga adalah waktu dan kesehatan.

Lalu bagai mana seorang murid dapat menggapai cita-citanya?... ada sebuah jalan yang kita tidak tahu dari rahasia tuhan. Ada banyak jalan bagi manusia untuk mengapai cita-citanya, yang saya tahu yaitu; Uang, pintar, berani dan "lucky". Dan ada juga sebuah jalan yang lebih mudah "Orang dalam".
Orang dalam, jalan ini saya katakan cukup mudah, bagai mana tidak, biar saya beri contoh; ketika ingin memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi) jika mengikuti ujian tanpa "sogokan" saya yakin itu bakalan lama lulus, tapi jika "menyogok" dengan calo pasti sekali bikin langsung jadi.
Atau anak lulusan SMA/K yang lulus tergiur mengikuti seleksi masuk Polisi berheti di tengah jalan. Tapi jika memiliki "pelicin" persentasinya hampir banyak yang lolos. Hal ini bukan rahsia tertutup lagi, hanya saja tidak pernah ada iklan di koran atau di media manapun yang mempublikasikan jasa ini.

Saya juga bisa mampu melihat seseorang dapat menjadi seseorang karna orangtuanya menjadi seseorang yang berpengaruh. Seperti dalam politik dinasti atau seorang anak raja yang akan menjadi seorang raja secara otomatis.

Namun takdir itu sangat membingungkan, saya pernah kenal dengan seorang siswi yang pintar disekolah, namun setelah lulus sekolah ia menikah dan menjadi "pelayan suaminya" atau menjadi seorang buruh dan terkadang pula menghapuskan cita-cita yang ia miliki waktu sekolah. Atau seperti sebuah anak nelayan yang jenis, dari seorang anak nelayan dari  filem Laskar Pelangi. Namun teman saya yang begitu malas sekolah kadang memiliki banyak kasus di sekolah, mereka dapat melanjutkan kuliah di Jurusan Kedokteran dan terkadang kebanyakan mereka menjadi polisi. Padahal jika saya bertanya pada mereka tentang cita-cita mereka tak pernah memiliki cita-cita yang serius.

Lalu apakah kita menyalahkan tuhan karna memberi takdir itu tidak adil, itu bukan jawabannya. Takdir dijawab oleh kemampuan, menurutku "jika kau tidak bisa berlari 100 meter, lalu kau coba lari kemudian hanya berhenti pada titik 10 meter, itu berarti jawaban atas takdir mu hanya sebatas 10 meter" lalu bagai mana dengan mereka yang sekolah malas? Ia saja yang pintar hanya 10 meter? Apakah itu adil?.. jika ku tanya lagi untuk apa pintar saja, jika tidak punya keberanian? Atau punya keberanian tanpa modal apapun dengan konyol, berlari 100 meter kau pasti mati atau pingsan terengap-engap ditengah jalan. Lalu jawaban mereka yang mampu berlari seratus meter itu bagai mana? Jawabannya adalah "mereka mampu membeli motor dan keberanian sehingga mereka mampu mencapai 100 meter itu".
Lalu bagai mana supaya orang pintar atau orang bodoh itu bisa sukses? Kutak akan menjawabnya , kamu tanya sendiri saja kepada orang sukses yang bukan dari keluarga yang kaya atau bukan dari orang keluarga yang terpandang, pasti mereka menjawab "belajar, jangan malas, berani, percaya kekuatan tuhan dll.

Komentar