LAPORAN PRAKTIKUM
KESEHATAN DAN KESUBURAN TANAH
“PERANGKAT UJI TANAH SAWAH
(PUTS)”
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mata
Kuliah Kesehatan dan Kesuburan Tanah

Disusunoleh:
Nama
: Satrio Haryono
NIM : 4442150026
Kelas : IV B
Kelompok : 3 (Tiga)
JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2017
KATA PENGANTAR
Rasa syukur saya kehadiratkan kepada Allah SWT, yang telah membiri saya
nikmat sehat dan nikmat segala nikmat hingga saya dapat menyeleaikan tugas
hasil praktikum ini dengan tepat pada watunya. Selawat serta salam saya
curahkan kepada Nabi Muhamad SAW yang telah membawa kita dari jaman jahilia ke
jaman terang benerang ini. Tak lupa saya bertrimakasih kepada bapak dan ibu
Dosen yang telah mengajarkan saya tentang mata kuliah ini, dan taklupa pula
saya bertrimakasih kepada Asisten Laboratorium dan teman-temansaya yang telah
membing-bingsaya dalam mengerjakan tugas laporan ini dan terutama saya
bertrimakasih kepada kedua orang tua saya yang telah mendoakan saya dan
membantu saya dalam bentuk materi.
Tugas laporan ini bertujuan untuk memenuhi
tugas kuliah saya, apabila ada kesalahan dalam segi kata-kata dan sebagainya
saya meminta maaf, dan saya harap pembaca biasa memberikan keritik yang
membangun agar saya bias lebih baik lagi dalam membuat tugas laporan ini.
Kurang lebihnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya, terimakasih.
Serang, Mei 2017
penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................... i
DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL................................................................................................ iii
BAB I PENDAULUAN........................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................... 1
1.2 Tujuan....................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................... 3
2.1 Tanah....................................................................................................... 3
2.2 Fosfor (P).................................................................................................. 3
2.3 Kalium (K)................................................................................................ 3
2.4 Bahan Organik.......................................................................................... 4
2.5 Ph Tanah................................................................................................... 5
2.6 PUTS......................................................................................................... 7
2.7 Prinsip
kerja PUTS..................................................................................... 9
BAB III BAHAN DAN METODE...................................................................... 6
3.1 Waktu dan Tempat................................................................................... 6
3.2
Alat dan Bahan........................................................................................ 6
3.3 Cara Kerja................................................................................................. 6
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.............................................................. 7
4.1 Hasil.......................................................................................................... 7
4.2 Pembahasan.............................................................................................. 7
BAB V PENUTUP.............................................................................................. 10
5.1 Simpulan................................................................................................. 10
5.2 Saran....................................................................................................... 10
DAFTR PUSTAKA............................................................................................ 11
LAMPIRAN......................................................................................................... 12
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Semua makhluk hidup sangat tergantung dengan tanah,
sebaliknya suatu tanah pertanian yang baik ditentukan juga oleh sejauh mana
manusia itu cukup terampil mengolahnya. Tanah merupakan sumber daya alam yang
dapat dimanfaatkan untuk kepentingan dan kesejahteraan manusia. Tanah dapat
digunakan untuk medium tumbuh tanaman yang mampu menghasilkan berbagai macam
makanan dan keperluan lainnya. Maka dari berbagai macam tanah beserta
macam-macam tujuan penggunaannya itu perlu dilakukan suatu pembelajaran lebih
lanjut mengenai tanah agar kita benar-benar memahami tanah itu sendiri (Abi, 2015).
Bahan organik
merupakan bahan penting dalam menciptakan kesuburan tanah, baik secara fisika,
kimia maupun biologi tanah. Bahan organik adalah bahan pemantap agregat tanah
yang tiada taranya. Sekitar setengah dari kapasitas tukar kation (KTK) berasal
dari bahan organik. Ia merupakan sumber hara tanaman. Disamping itu bahan
organik adalah sumber energi dari sebagian besar organisme tanah. Dalam
memainkan peranan tersebut bahan organik sangat ditentukan oleh sumber dan
susunannya, oleh karena kelancaran dekomposisinya, serta hasil dekomposisi itu
sendiri (Abi, 2015).
Pada
umumnya tanah memerlukan sekali unsure ara makro terutama unsure P,K,C-Organik,
untuk kesehtan dan kesuburan tanah. dan pada kemasaman tanah dapatmempengaruhi
kesuburan tanah yang akan digunakan untuk budidaya. Apabila tanah masam
biasanya menggunakan kapur untuk menetralisir keasaman yang terdapat pada tanah. kapur yang bersifatbasa
ini dapat menurunkan tingkat kemasaman pada tanah.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan pada peraktikum kali ini yaitu
1.
Agar mahaiswa mampu melaksanakn pengujian tanah
dengan menggunakan metode PUTS (Perangkat Uji Tanah Sawah)
2.
Agar mahsiswa mampu mengetahui rekomendasi pemberian
pupuk NPK dan pH tanah
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Tanah
Tanah adalah produk transformasi
mineral dan bahan organik yang terletak dipermukaan sampai kedalaman tertentu
yang dipengaruhi oleh faktor-faktor genetis dan lingkungan, yakni : bahan
induk, iklim, organisme hidup (mikro dan makro), topografi, dan waktu yang
berjalan selama kurun waktu yang sangat panjang, yang dapat dibedakan ciri-ciri
bahan induk asalnya baik secara fisik, kimia, biologi maupun morfologinya
(Anonim. 2015).
Tanah
berfungsi sebagai media pertumbuhan tanaman tingkat tinggi dan sebagai basis
kehidupan manusia dan hewan. Tanah yang subur merupakan tempat hidup
mikroorganisme yang sangat baik. Tanah juga sebagai sumber unsur hara yang
dibutuhkan tanaman dan juga merupakan media yang sangat baik untuk mendaur
ulang dan mengurangi sifat meracun bahan-bahan organik, unsur dan gas-gas
global. Karena kemampuan tanah tersebut maka hingga sekarang, tanah menjadi
alternatif pertama untuk pembuangan limbah yang sangat murah (Hardjowigeno, 2010).
2.2
Fosfor (P)
Fosfor (P) merupakan unsur hara
esensiil dan tidak ada unsur lain yang dapat menggantikan fungsinya. Umumnya
kadar P berada dibawah kadar N dan K.
Tanah-tanah muda dengan curah hujan
rendah biasanya mengandung P cukup tinggi, apabila dibandingkan dengan
tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut dan berkembang di daerah
dengan curah hujan tinggi. Kehilangan P dari tempat/tanah erat hubungannya
dengan proses run off dan erosi. Dapat dikatakan erosi
merupakan bentuk kehilanagn P yang sangat besar (Poerwowidodo. 1991).
Secara umum P didalam tanah dapat
dikelompokkan menjadi P-organik dan P-anorganik, yang dimana ketersediaan
P-organik relative lebih tinggi dibandingkan dengan P-anorganik (Poerwowidodo.
1991).
Hubungan fosfor di dalam tanah
dengan tanaman :
·
Berfungsi
untuk pengangkutan energi hasil metabolisme dalam tanaman
·
Merangsang
pembungaan dan pembuahan
·
Merangsang
pertumbuhan akar
·
Merangsang
pembentukan biji
·
Merangsang
pembelahan sel tanaman dan memperbesar jaringan sel
·
Tanaman
yang kekurangan unsur P gejaalanya : pembentukan buah/dan biji berkurang,
kerdil, daun berwarna keunguan atau kemerahan (kurang sehat)
2.3 Kalium (K)
Walaupan K didalam tanah cukup besar
(0,5 atau 2,5%), akan tetapi presentase yang tersedia bagi tanaman selama musim
pertumbuhan tanaman rendah, yaitu kurang dari 2%. Pada tanah-tanah tropik kadar
K tanah bisa sangat rendah karena bahan induknya miskin K, curah hujan tinggi,
dan tempertur tinggi, yang dapat mempercepat pelepasan/pelapukan mineral dan
pencucian K tanah.
Kalium didalam tanah dapat
dikelompokkan dalam 2 bentuk, yakni.
1.
K-tidak
tersedia, banyak dijumpai dalam mineral (batuan). Kalium akan dilepa jika
batuan terlapuk, akan tetapi proses ini akan berjalan sangat lama sehingga
tidak nyata pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman.
2.
K-tersedia,
kalium segera tersedia merupakan K yang terdapat di dalam larutan tanah
ditambah dengan K yang diikat dalam bentuk dapat dipertukarkan baik pada bahan
organik maupun mineral liat.
Hubungan kalium pada tanah untuk
tanaman :
·
Berfungsi
dalam proses fotosintesa, pengangkutan hasil asimilasi, enzim dan mineral
termasuk air.
·
Meningkatkan
daya tahan/kekebalan tanaman terhadap penyakit
Tanaman yang kekurangan unsur K
gejalanya : batang dan daun menjadi lemas/rebah, daun berwarna hijau gelap
kebiruan tidak hijau segar dan sehat, ujung daun menguning dan kering, timbul
bercak coklat pada pucuk daun. (Poerwowidodo.
1991).
2.4 Bahan Organik
Bahan Organik Adalah sekumpulan beragam senyawa-senyawa organik kompleks
yang sedangatau telah mengalami proses dekomposisi baik berupahumus hasil humifikasi
maupunsenyawa senyawa organik hasil mineralisasi dan termasuk juga mikrobia
heterotrofik organikan ototrofik yang
terlibat dan berada di dalamnya (Abi,
2015).
Bahan organik berperan penting untuk menciptakan kesuburan
tanah. Peranan bahan organik bagi tanah adalah dalam kaitannya dengan perubahan
sifat-sifat tanah, yaitu sifat fisik, biologis, dan sifat kimia tanah. Bahan
organik merupakan pembentuk granulasi dalam tanah dan sangat penting dalam
pembentukan agregat tanah yang stabil. Bahan organik adalah bahan pemantap
agregat tanah yang tiada taranya. Melalui penambahan bahan organik, tanah yang
tadinya berat menjadi berstruktur remah yang relatif lebih ringan. Pergerakan
air secara vertikal atau infiltrasi dapat diperbaiki dan tanah dapat menyerap
air lebih cepat sehingga aliran permukaan dan erosi diperkecil. Demikian pula
dengan aerasi tanah yang menjadi lebih baik karena ruang pori tanah (porositas)
bertambah akibat terbentuknya agregat. (Mulyani, 2002).
Kandungan
organik tanah biasanya diukur berdasarkan kandungan C-organik kandungan karbon
(C) bahan organik bervariasi antara 45 sampai 60% dan konversi C-organik
menjadi bahan = % C-organik x 1,724. Kandungan bahan organik dipengaruhi oleh
arus akumulasi bahan asli dan arus dekomposisi dan humifikasi yang sangat
tergantung kondisi lingkungan (vegetasi, iklim, batuan, timbunan, dan praktik
pertanian). Arus dekomposisi jauh lebih penting dari pada jumlah bahan organik
yang ditambahkan. Pengukuran kandung bahan organik tanah dengan metode walkey
and black ditentukan berdasarkan kandungan C-organik
(Foth, 1984).
Pengaruh
bahan organik terhadap tanah dan kemudian terhadap tanaman tergantung pada laju
proses dekomposisinya. Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi laju
dekomposisi ini meliputi faktor bahan organik dan faktor tanah. Faktor bahan
organik meliputi komposisi kimiawi, kadar lignin dan ukuran bahan, sedangkan
faktor tanah meliputi temperatur, kelembaban, tekstur, struktur dan suplai
oksigen, serta reaksi tanah dan ketersediaan hara (Nurhidayati,
2006.).
2.5 Ph Tanah
pH tanah adalah
salah satu dari beberapa indikator kesuburan tanah, sama dengan keracunan
tanah. Level optimum pH tanah untuk aplikasi penggunaan lahan berkisar
antara 5–7,5. tanah dengan pH rendah (acid) dan pH tinggi (alkali)
membatasi pertumbuhan tanaman. Efek pH tanah pada umumnya tidak
langsung. Di dalam kultur larutan umumnya tanaman budidaya yang
dipelajari pertumbuhannya baik/sehat pada level pH 4,8 atau lebih (Pringadi,
2013).
PH tanah
menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (didalam tanah). Makin tinggi
kadar ion didalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Bila kandungan H
sama dengan maka tanah bereaksi netral yaitu mempunyai pH = 7
(Hardjowigeno, 2010).
Nilai pH tanah
dipengaruhi oleh sifat misel dan macam katron yang komplit antara lain
kejenuhan basa, sifat misel dan macam kation yang terserap. Semakin kecil
kejenuhan basa, maka semakin masam tanah tersebut dan pH nya semakin
rendah. Sifat misel yang berbeda dalam mendisosiasikan ion H beda walau
kejenuhan basanya sama dengan koloid yang mengandung Na lebih tinggi mempunyai
pH yang lebih tinggi pula pada kejenuhan basa yang sama (Hardjowigeno, 2010).
Faktor – faktor yang mempengaruhi
pH tanah adalah air bersifat
netral karena konsentrasi H+ dan OH- yang
sama pada keadaan netral pH adalah 7. Suatu ukuran skala pH digunakan untuk
memudahkan dan meenyatakan SI+ yang sangat kecil didalam air
maupun didalam berbagai sistem hayati penting, kation-kation yang dapat
dipertukarkan terserap dengan tenaga yang cukup besar untuk memperlambat
pencuciannya dari tanah, (Foth, 1987)
Pengukuran pH
tanah dilapangan dengan prinsip kalori meter dengan menggunakan indicator
(larutan, kertas lakmus), yang menunjukan warna tertentu pada pH berbeda (Mohr,
1972) kondisi pH tanah mempengaruhi serapan unsur hara dan peertumbuhan tanaman
melalui pengaruhnya terhadap ketersedian unsur hara dan adanya unsur-unsur yang
beracun. (Nurhidayati,
2006)
Biasanya jika
pH tanah semakin tinggi maka unsur hara semakin sulit diserap tanaman, demikian
juga sebaliknya jika terlalu rendah akar juga akan kesulitan menyerap
makanannya yang berada didalam tanah. Akar tanaman akan mudah
menyerap unsur hara atau pupuk yang kita yang kita berikan jika pH dalam
tanahsedang-sedang saja cenderung netral. (Nurhidayat,2006).
Beberapa unsur
hara fungsional seperti besi, mangan, dan seng berkurang apabila
pH digunakan dari 5,0 menjadi 7,5 atau 80 molidenium berkurang
ketersediannya bila pH diturunkan pada pH kurang dari 5,0 besi dan mangan
menjadi larut dalam jumlah cukup banyak sehingga dapat mengganggu serapan
normal unsur lain dan sangat merugikan pertumbuhan tanaman (Nurhidayati. 2006).
Reaksi tanah
menunjukan sifat kemasaman atau alkalis tanah yang dinyatakan dengan nilai pH.
Nilai pH menunjukan banyaknya konesntrasi ion hidrogen H+ didalm
tanah, makin tinggi kadar ion H+ didalam tanah, maka semakin
masam tanah tersebut. Pada tanah-tanah yang masam ion H+ lebih
`tinggi dari pada OH- sedangkan pada tanah brsifat alkalis
kandungaan ion OH-lebih tinggi pada ion H+. kemasam tanah
terdapat pada daerah dengan curah hujan tinggi sedangkan pengaruhnya sangat
besar padatanaman, seehingga kemasaman tanah harus diperhatikan karena
merupakan sifat tanah yang sangat penting (Abi, 2015)
Sifat kemasaman
tanah ada dua jenis yaitu kemasaman aktif dan kemasaman potensial, kemasan aktif
ialah yang diukurnya konsentrasi ion H+yang terdapat pada pemakaian
sehari-hari. Sedangkan reaksi tanah adalahh banyaknya kadar hydrogen dapat
ditukar oleh kompleks koloid tanah (Hakim, 1986.).
2.6
PUTS
Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS)
terdiri dari satu set alat dan bahan kimia untuk analisis kadar hara tanah
sawah, yang dapat digunakan di lapangan dengan relatif cepat, mudah, murah dan
cukup akurat. PUTS ini dirancang untuk mengukur kadar N, P, K dan pH tanah (Abi,
2015)
Hasil
pengukuran kadar hara N, P, dan K tanah dengan PUTS dikatagorikan menjadi tiga
kelas status hara mengacu pada hasil penelitian uji tanah, yaitu : status
rendah (R), sedang (S) dan tinggi (T). PUTS ini merupakan penyederhanaan dari pekerjaan
analisa tanah di laboratorium yang didasarkan pada hasil penelitian uji tanah. Satu paket
kemasan PUTS terdiri dari : (a) satu set larutan ekstraksi untuk penetapan N,
P, K dan pH, (b) peralatan pendukung, (c) bagan warna N, P, K, dan pH, (d) bagan
warna daun (BWD), serta (e) buku petunjuk penggunaan. PUTS ini dapat digunakan
untuk analisa contoh tanah sebanyak ± 50 sampel. Jika dirawat dan ditutup rapat
segera setelah dipergunakan maka masa kadaluarsa bahan kimia yang ada dalam
PUTS ini berkisar 1-1,5 tahun dari pertama kali kemasan dibuka (Abi,
2015)
2.7 Prinsip
kerja PUTS
Prinsip yang digunakan untuk
menyusun PUTS ini adalah dapat mengukur hara N, P, dan K tanah yang terdapat
dalam bentuk tersedia untuk tanaman secara semi-kuantitatif dengan metode
kolorimetri (pewarnaan). Bentuk hara tersedia menggambarkan suatu indeks
ketersediaan hara yang terdapat dalam larutan tanah dan dapat dengan mudah
diambil/diserap oleh tanaman. Bentuk hara inilah yang diukur di laboratorium
maupun dengan PUTS (Abi, 2015)
Kadar hara dalam tanah ditentukan
dengan cara mengekstrak hara tersedia dari tanah dan kemudian mengukur kadar
hara yang terekstrak tersebut. Oleh karena itu, pereaksi atau bahan kimia yang
digunakan dalam alat uji tanah pada umumnya terdiri atas larutan pengekstrak
dan pembangkit warna. Bentuk hara yang diekstrak dengan PUTS untuk nitrogen
adalah N-NO3- dan N-NH4+, untuk fosfat bentuk orthophosphate yaitu PO43-,
HPO42-, dan H2PO4- dan untuk kalium adalah K+. PUTS ini telah
diuji dengan menggunakan contoh tanah mineral dari lahan sawah yang mempunyai
sifat dan karakteristik kandungan P dan K serta pH tanah yang bervariasi dari
rendah hingga tinggi. Uji validasi PUTS telah dilaksanakan pada tanah
Inceptisol, Ultisol, Entisol, dan Vertisol yang tersebar di 146 lokasi lahan
sawah di Pulau Jawa. Namun demikian, untuk lebih Hasil validasi yang diukur
berdasarkan tingkat kesesuaian pengukuran hara N, P, K dan pH untuk 146 tanah
sawah yang diuji dengan PUTS dibandingkan dengan hasil analisis di laboratorium
berturut-turut adalah 55% untuk N, 90% untuk P, 70% untuk K, dan 78% untuk pH.
Rekomendasi pemupukan N, P, dan K pada berbagai kelas status hara tanah yang
diberikan mengacu
pada hasil kalibrasi uji tanah (Abi, 2015)
2.8 Manfaat PUTS
Secara
umum PUTS ini dapat digunakan untuk penilaian status kesuburan tanah sawah
secara cepat. Tanah sawah yang mempunyai kandungan hara N, P, dan K tinggi
dinyatakan sebagai tanah-tanah sawah yang subur sehingga upaya pelestarian
produktivitas lahannya sedikit lebih ringan dibandingkan tanah-tanah sawah yang
berstatus hara rendah. Manfaat secara khusus adalah pemberian rekomendasi pupuk
N, P, dan K untuk padi sawah dapat lebih tepat dan efisien sehingga diperoleh
penghematan pupuk. Jumlah pupuk yang diberikan untuk masing-masing kelas status
hara tanah berbeda sesuai kebutuhan tanaman (Abi,
2015).
BAB
III
METODE
PRAKTIKUM
3.1
Waktu dan Tempat
Praktikum
Kesehatan dan Kesuburan Tanah yang
berjudul “Perangkat uji tanah sawah (PUTS)” di laksanakan pada hari Jumat
tanggal 23 Mei 2017 pukul 14.40--16.10
WIB bertempat di Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa.
3.2 Alat dan Bahan
Alat
dan bahan yang digunakan pada praktikum ini diantaranya adalah perangkat uji
tanah sawah (PUTS), spatula, tabung reaksi, rak tabung reaksi, stirrer,
stopwatch, sampel tanah sawah dan alat tulis.
3.3 Cara
Kerja
Prosedur
kerja yang dilakukan dalam praktikum ini diantaranya adalah sebagai berikut :
3.3.1
Penetapan Status N Tanah
1. Contoh
tanah uji sebanyak ½ sendok spatula dimasukkan ke dalam tabung reaksi (Lampiran
1 dan 2).
2. Tambahkan
2 ml pereaksi N-1 (Lampiran 3) dan dikocok sampai homogen (Lampiran 4).
3. Tambahkan
2 ml pereaksi N-2 (Lampiran 5) dan dikocok sampai homogen (Lampiran 4).
4. Tambahkan
3 tetes pereaksi N-3 (Lampiran 6) dan dikocok sampai homogeny (Lampiran 4).
5. Tambahkan
5-10 butir pereaksi N-4. (Lampiran 7 dan 8) dan dikocok sampai homogen
(Lampiran 4).
6. Larutan
didiamkan ± 10 menit (Lampiran 9).
7. Bandingkan
warna yang muncul pada larutan jernih di permukaan tanah dengan bagan warna N
tanah dan baca status hara N tanah (Lampiran 10).
3.3.2
Penetapan
Status P Tanah
1. Contoh
tanah uji sebanyak ½ sendok spatula dimasukkan ke dalam tabung reaksi (Lampiran
1 dan 2).
2. Tambahkan
3 ml pereaksi P-1 (Lampiran 11) dan dikocok sampai homogen (Lampiran 4).
3. Tambahkan
5-10 butir pereaksi P-2 (Lampiran 12 dan 13) dan dikocok selama 1 menit
(Lampiran 4).
4. Larutan
didiamkan ± 10 menit (Lampiran 14).
5. Bandingkan
warna biru yang muncul dan larutan jernih di permukaan tanah dengan bagan warna
P tanah dan baca status hara P tanah (Lampiran 15).
3.3.3.
Penetapan Status K Tanah Sawah
1.
Contoh Tanah uji sebanyak ½ sendok spatula dimasukkan kedalam tabung reaksi (Lampiran16).
2.
Tambahkan 2 ml pereaksi K-1, kemudian diaduk hingga merata dengan pengaduk kaca
ataupun shaker (Lampiran 17 dan lampiran 18).
3. Tambahkan 1 tetes
pereaksi k-2 lalu dikocok selama 1 menit (Lampiran 19).
4. Tambahkan 1 tetes
perekasi K-3, lalu dikocok sampai merata (Lampiran 20).
5. Diamkan selama ± 10
menit (Lampiran 21).
3.3.4
Penetapan status PH tanah sawah
1.
Contoh tanah uji Sebanyak ½ sendok spatula atau 0,5 cm dimasukkan kedalam
tabung reaksi(Lampiran 16).
2.
Tambahkan 4 ml perekasi pH-1, kemudian diaduk sampai merata dengan pengaduk
kaca ataupun shaker (Lampiran 22).
3.
Tambahkan 1-2 tetes indikator pereaksi pH-2 (Lampiran 23).
4.
Diamkan larutan selama ± 10 menit hingga suspense mengendap dan terbentuk warna
pada cairan jernih dibagian atas (Lampiran 24).
5.
Bandingkan warna yang muncul pada larutan jernih dipermukaan tanah dengan bagan
warna pH tanah (Lampiran 24).
6.
Jika warna yang timbul meragukan, tanah dikocok ulang secara perlahan sampai
cairan jernih teraduk merata, lalu
diamkan kembali. Selanjutnya bandingkan lagi dengan bagan warna pH (Lampiran
25).
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil
Tabel
1 Hasil Uji Status N,P,K dan PH tanah dengan metode PUTK
Lokasi
|
Pengukuran
|
Status
Hara
|
||||||||
N
|
P
|
K
|
PH
|
|||||||
Bagan
|
Reko
mendasi
|
Bagan
|
Rekom
endasi
|
Bagan
|
Reko
mendasi
|
Ba
gan
|
Rekom
endasi
|
|||
Kp. Cikuya
Karang Kitri, Desa Sindang Sari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Banten
|
23
MEI 2017
|
Sangat
tinggi
|
92
kg N/ha (Tanah berliat) 92 kg N/ha (Tanah berpasir)
|
Tinggi
|
50
kg Sp-36/ha
|
Sedang
|
50
kg KCl/ha dan 50 t jerami/ha
|
Agak
Masam (pH 5-6)
|
1.Sistem
drainase kon
vernsional
2.Pupuk
dalam bentuk urea
|
|
4.2 Pembahasan
Penentuan
kebutuhan pupuk pada tanaman dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, antara
lain analisis tanah. Analisis tanah banyak digunakan sebagai alat manajemen
pemupukan pada tanaman semusim (Liferdi, 2009). Pengujian tanah merupakan suatu
cara yanng dilakukan untuk mengetahui jumlah kandungan hara yang ada dalam
tanah. Pengujian tanah biasanya digunakan untuk mengetahui kadar unsur hara
makro seperti P dan K, kemasaman atau pH tanah, kandungan kapur dalam tanah
serta kandungan bahan organik dalam dalam tanah dengan menggunakan perangkat
uji tanah sawah. Selain itu, pengujian tanah tersebut dilakukan untuk
mengetahui tingkat kesuburan tanah agar dalam proses pengolahan dan pemberian
pupuknya sesuai dengan dosis yang dibutuhkan oleh tanaman serta sesuai dengan
keadaan dan kadar hara tanah yang akan diberikan pupuk tersebut.
Dalam pengujian
tanah yang dilakukan pada praktikum kali ini, setiap kelompok menguji tanah sawah dari sampel yang diambil dari Kp. Cikuya
Karang Kitri, Desa Sindang Sari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Banten.
Perbaikan tanah
dapat dilakukan dengan cara melakukan perbaikan sifat-sifat kimia, fisika
maupun sifat biologi terhadap tanahanya agar tanah tersebut memiliki kemampuan
lebih besar dalam mendukung produksi tanaman. Pemberian bahan organik serta
pupuk anorganik terhadap tanah merupakan salah satu cara agar ketiga sifat
tanah tersebut dapat diperbaiki secara simultan. Menurut Naharsari (2007).
Dari hasil yang kami uji menunjukan
nilai N yang terkadung yaitu sangat tinggi. Dari hasil kadar N yang tinggi ini akan
berdampak pada kesehatan dan kesuburan tanah apalagi untuk tanaman, dampak
kelebihan nitrogen pada tanaman atau gejala kelebihan unsur hara nitrogen
biasanya akan memberikan warna gelap, sukulen, pertumbuhan vegetatif yang
hebat, dan tanaman mudah rusak karena dingin dan membeku. Kelebihan unsur
nitrogen pada tanaman juga dapat terjadi karena pemupukan dengan dosis tinggi
atau dapat juga disebabkan karena pelepasan nitrogen oleh kegiatan
mikroorganisme melebihi kecepatan penggunaan oleh tanaman. Dari hasil yang
didapatkan ini direkomendasikan
penggunaan
unsure nitrogen yaitu dengan takaran 92 kg N/ha (Tanah berliat) 92 kg N/ha
(Tanah berpasir).
Dari
hasil pengukuran status hara P pada tanah yang kami uji menunjukan nilai P yang
tinggi, factor yang menyebabkan status hara P tnggi yaitu : 1. Status fosfor tanah, 2. Tanaman, 3. Kemasaman,
4. Lengas, 5. Temperature, 6. Aerasi, 7. Pemadatan, 8. Hara lain, 9. Jumlah
liat, 10.Tipe liat. Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan
unsur fosfor pada tanah Ultisol adalah dengan carapemberian pupuk TSP dan pupuk
KCl. Menurut Lakitan (2001), fosfor merupakan bagian yangesensial dari berbagai
gula fosfat yang berperan dalam reaksi-reaksi pada fase gelap
fotosintesis,respirasi, dan berbagai proses metabolisme lainnya. Pupuk KCl
adalah sumber unsur Kalium.Kalium berperan dalam proses membuka dan menutup
stomata, meningkatkan ketahanantanaman terhadap serangan hama dan penyakit,
memperkuat daun, bunga, dan buah sehinggatidak mudah rontok, dan memperbaiki
kualitas dan rasa manis buah (Novizan, 2005). Selain itu,kalium juga berperan
dalam mengaktifkan enzim untuk membentuk pati dan protein, sertapenentu tekanan
osmotik dan tekanan turgor sel (Salisbury, 1995). Dari hasil yang didapatkan
ini direkomendasikan untuk penggunaan KCL yaitu 50 kg KCl/ha dan 50 t
jerami/ha.
Dari hasil
pengujian yang kami lakukan pH pada tanah tersebut agak masam dengan pH 5-6.
Pada rekomendasi pemupukan P bahwa hasil analisa yang dihasilkan menyebutkan
status hara P pada tanah jeruk dengan kedalaman solum 20 cm menghasilkan bagan
warna non andisol dan status unsur P sedang. Unsur hara P yang berada dalam
tanah liat umumnya rendah sebab terikat dengan tekstur tanah yang liat,
bahan organik, oksida Fe, Al dan pada tanah dengan pH rendah. Hal tersebut
sesuai dengan pengujian C-organik dalam tanah yang menunjukkan bahwa status
C-organik pada tanah tersebut rendah dengan tinggi busa < 2 cm dengan
rekomendasi 2t/ha. Ketersediaan C-organik dalam tanah juga berpengaruh terhadap
tinggi rendahnya unsur hara P dalam tanah. Ketersedian unsur hara P yang
cukup dalam tanah dan sesuai dengan kebutuhan tanaman sangat berpengaruh
terhadap tanaman dalam proses untuk mensintesa protein serta dalam pembentukan
bunga, buah dan biji. Selain berpengaruh terhadap ketersediaan hara P,
C-organik juga berpengaruh terhadap pH tanah. Pada pH yang rendah ketersedian
hara makro sehingga dapat menyebabkan kekahatan unsur hara bagi tanaman.
Dari hasil penentuan kadar
K dalam tanah pada praktikum kali ini dapat dilihat bahwa pada status K yang
tersedia dalam tanah dalam kondisi sedang. Hal tersebut dapat dilihat dari
pengujian yang dilakukan dengan adanya endapan putih yang menyerupai kabut pada
larutan tanah dengan jumlah yang sedikit. 50 kg KCl/ha dan 50 t
jerami/ha. Ketersedian unsur hara K dalam tanah biasanya
dipengaruhi oleh ketersediaan bahan organik dan mineral tanah. K merupakan
unsur hara yang mobile sehingga mudah tercuci oleh arus pergerakan air sehinggan
untuk efisiensi pupuk K dalam tanah biasanya rendah.
Penambahan bahan organik dalam tanah bertujuan
untuk memperbaiki kondisi tanah dan meningkatkan kesuburan tanah, dilihat dari
hasil uji PUTK kandungan C-organiknya rendah sedangkan umumnya carbon dalam
bahan organik ± 58%, hal tersebut berpengaaruh terhadap siklus N
dalam tanah. Untuk dosis pemupukan P dan K yang sesuai dengan keadaan atau
kondisi tanah untuk pertanaman jeruk tersebut harus berdasarkan pada kondisi
tanah atau kandungan K dalam tanah. Untuk rekomendasi pupu SP-36 berdasarkan
ketersediaan P dalam tanah, dosis pupuk yang harus diberikan pada tanah
pertanaman jeruk dalam kisaran 150-175 kg/ha.untuk pemberian pupuk K dalam
bentuk KCL yang sesuai dengan kebutuhan tanah pada tanah pertanaman jeruk yaitu
pada kisaran dosis 50 kg KCl/ha dan 50 t jerami/ha.
BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Simpulan pada perktikum kali ini yaitu hasil dari
pengujian sampel menunjukan kandungan N sangat tinggi, P tinggi dan K sedang,
sedangkan pada pH tanahnya yaitu agak masam.
5.2 Saran
Saran
pada peraktikum uji status NPK dan pH tanah ini bisa membiri rekomendasi kepada
pengguna lahan yang menggunakan lahan yang menjadi sampel tersebut, khususnya
mahasiswa. Agar dapat mengetahui status lahan yang mereka gunakan
Kurang dapus
BalasHapus