Langsung ke konten utama

JURNAL PENGARUH PENYEMPROTAN LARUTAN KALSIUM PROPIONAT DAN NATRIUM BENZOAT PADA PASCA PANEN KELAPA SAWIT (Elais guineensis Jacq) TERHADAP KUALITAS CPO

PENGARUH PENYEMPROTAN LARUTAN KALSIUM PROPIONAT DAN NATRIUM BENZOAT PADA PASCA PANEN KELAPA SAWIT (Elais guineensis Jacq) TERHADAP KUALITAS CPO


Satrio Haryono

Jurusan Agroekoteknologi Fakultas Prtanian Universitas Sutan Ageng Tirtayasa
Jalan Raya Jakarta Km 4, Panancangan, Cipocok Jaya, Banjaragung, Kota Serang, Banten 42124
email: satrioharyono7@gmail.com

ABSTRAK
Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan yang sekarang ini banyak diusahakan baik oleh petani pekebun maupun perusahan. Buah  kelapa  sawit  rentan  mengalami  restan  dan  kerusakan  fisik  serta  mikrobiologi sehingga menyebabkan kualitas buah tersebut menurun sehingga kadar asam lemak bebas (ALB) menjadi  naik  dan  perlu  dilakukan  perlakuan  khusus  salah  satunya  yaitu  dengan  menyemprot buah  dengan  larutan  Kalsium  Propionat  dan  Natrium  Benzoat untuk  menjaga  mutu  buahnya.   Tujuan  penelitian  ini  adalah  mengetahui  pengaruh Kalsium  Propionat  dan  Natrium  Benzoat terhadap kualitas  Crude Palm Oil (CPO). Hasil  dari pengaruh penyemprotan Kalsium  Propionat  dan  Natrium  Benzoat dengan kadar 1000 ppm - 2000 ppm terhadap kadar  ALB ke duanya  berpengaruh  nyata. Untuk  kadar  air pada Natrium  Benzoat berpengaruh nyata, namun pada Kalsium  Propionat  tidak berpengaruh nyata. Pada perendaman ke duannya tidak berpengaruh nyata dan pada pengaruh penyemprotan Kalsium  Propionat  dan  Natrium  Benzoat terhadap kadar kotoran keduannya berpengaruh nyata.

Kata kunci: Buah Kelapa Sawit, Kadar ALB, Kalium Propionat,  Natrium Benzoat, Penyemprotan.

ABSTRACT
The palm oil is a crop plantation that is a lot of attempts by both farmers one of the gardeners and the company. The fruit palm oil are prone to remnant and physical damage and microbiology, causing the fruit quality is declining so that levels of free fatty acids (ALB) to go up and it needs to do special treatment one of them is by spraying the fruit with a solution Calcium Propionat and Sodium Benzoat to keep the quality of the fruit. The purpose of this research is knowing the influence of Calcium Propionat and Sodium Benzoat on the quality of crude (CPO). As a result of the influence of spraying Calcium Propionat and Sodium Benzoat with high levels of 1000 ppm - 2000 parts per million of levels of ALB both influential real. For water levels, in Sodium Benzoat a real, but in Kalsium Propionat do not affect real. In soaking both do not affect real and on the impact of spraying Calcium Propionat and Sodium Benzoat to levels of dirt both influential real.

The key word : Fruit Palm Oil, The ALB, Potassium Propionat, Sodium Benzoat, The spraying.


PENDAHULUAN
  Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan yang sekarang ini banyak diusahakan baik oleh petani pekebun maupun perusahan. Hasil panen utama dari tanamankelapa sawit adalah buah kelapa sawit yang disebut tandan buah segar (TBS). Tanaman kelapa sawit mulai berbunga dan membentuk buah pada umur 2-3 tahun. Memanen kelapa sawit merupakan salah satu kegiatan yang penting pada pengelolaan tanaman kelapa sawit, keberhasilan panen akan menunjang pencapaian produktivitas optimal, sebaliknya kegagalan panen akan menghambatnya. Panen memerlukan teknik tertentu agar mendapatkan hasil panen yang berkualitas (Madya, 2014 dalam Purba I.R, 2017)
Kelapa  sawit  (Elaeis  guineensis  ) merupakan  komoditi  yang  ketersediaannya sangat  banyak,  tercatat  berdasarkan  Angka Sementara  (ASEM)  2011  dari  Balai  Besar Pengkajian  dan  Pengembangan  Teknologi Pertanian,  luas  areal  kelapa  sawit  di Indonesia  cenderung  meningkat  selama tahun  2000-2011.  Kelapa  sawit  merupakan bahan  baku  dalam  pengolahan  Crude  Palm Oil  (CPO).  Kualitas  minyak  kelapa  sawit atau CPO dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu  :  kadar  Asam  Lemak  Bebas  (ALB), kadar  air,  dan  kadar  kotoran  (Dewi L.C, 2014). Prospektif keberlanjutan bisnis perkebunan kelapa sawit tidak perlu diragukan . Sejak 1911 ketika dimulai usaha perkebunan sawit di Sumatera Utara,  bisnis tersebut terbukti masih bisa  bertahan  dan  bahkan  menjadi  salah  satu  sektor  komoditas  andalan  perekonomian Indonesia (Renta, 2015).
Pabrik  Kelapa  Sawit  (PKS) merupakan  pabrik  yang  mengolah  kelapa sawit  dengan  metode  dan  aturan  tertentu hingga  menghasilkan  Crude  Palm  Oil (CPO).  Dalam  proses  pengolahan  tersebut, perusahaan  selalu  berupaya  untuk mengoptimalkan  jumlah  rendemen  CPO. Salah  satu  sistem  manajemen  yang diterapkan  untuk  mendapatkan  jumlah rendemen  yang  optimal  adalah  menekan terjadinya  kehilangan  minyak  (oil  losses) pada  CPO  selama  proses  produksi  (Devani V, 2014).
Perkembangan selanjutnya adalah muncul pemikiran bahwa ekspor Crude Palm Oil dan Palm Kernel Oil akan sangat menguntungkan produsen minyak sawit mentah di Indonesia. Hal tersebut didukung dengan kapasitas produksi minyak sawit Indonesia yang cukup besar. Selain itu, permintaan pasar dunia yang terus meningkat akan minyak sawit serta ditunjang dengan banyaknya produk olahan yang merupakan turunan dari produksi Crude Palm Oil dan Palm Kernel Oil. Kenaikan harga minyak sawit mentah merupakan sebuah rangsangan utama bagi para pengusaha di Indonesia, adapun usaha peningkatan produksi kelapa sawit hingga saat ini terus dilakukan, baik secara intensifikasi maupun ekstensifikasi. Selain itu akan membuka lapangan kerja yang lebih luas dan akan mendorong berkembangnya industri minyak mentah (Crude Palm Oil dan Palm Kernel Oil) yang lebih adaptif dan inovatif. Selain itu perlunya penerapan strategi dalam mengahadapi persaingan pasar minyak CPO dan PKO. Dari aspek ekonomi, harganya relatif murah dibandingkan dengan olahan minyak nabati lainnya. Produksi Crude Palm Oil dan Palm Kernel Oil di Indonesia tahun 2013 mencapai 26 juta ton atau naik 1,9% dibanding 2012 sebanyak 26,5 juta ton. Sedangkan produksi 2014 jumlahnya di kisaran 27,5-28 juta ton. Sedangkan harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil) dan produk turunannya di pasar internasional mampu menembus US$ 1.100 per ton. Hal itu berpotensi mendongkrak ekspor CPO hingga ke level US$ 24,2 miliar (Larasat N., 2016).
Kadar  ALB  terbentuk  akibat  adanya reaksi  hidrolisa  pada  minyak.  Kelapa  sawit pada saat pasca panen mengalami penurunan kadar  trigliserida  sebagai  akibat  dari  proses hidrolisa  lemak  oleh  enzim  lipase  menjadi gliserol  dan  ALB.  Pada  saat  menunggu proses pengolahan menjadi CPO, kandungan minyak  pada  buah  sawit  mengalami penurunan  rendemen  yang  signifikan. Faktor-faktor  yang  mempercepat pembentukan  ALB  setelah  tandan  dipotong dan sebelum direbus yaitu banyak buah yang rusak,  banyak  buah  yang  lepas (memberondol),  lamanya  pengangkutan, tingkat kematangan buah, dan pengumpulan buah yang tertunda. Pembentukan ALB juga dapat  terjadi  oleh  adanya  mikroorganisme pada  keadaan lembab dan kotor  (Dewi L.C, 2014).
 Faktor yang mempercepat pembentukan  ALB  setelah  tandan  dipotong dan sebelum direbus yaitu banyak buah yangrusak;  banyak  buah  yang  lepas (memberondol);  lamanya  pengangkutan; tingkat kematangan buah; dan  pengumpulan buah  yang  tertunda.  Karena  itu,  metode selama  penundaan  masa  tunggu  proses produksi  harus  tepat  agar  kerusakan  akibat buah memar dan kapang bisa diminimalisir, salah  satunya  menggunakan  Natrium Benzoat dan kalium propionate  (Maulana, A.F,  2015).  
Natrium  Benzoat  merupakan  suatu bahan  kimia  yang  tidak  berbau,  berwarna putih  dan  dapat  berbentuk  kristal,  tepung, bersifat  irritant.  Penggunaan Natrium Benzoat  dimaksudkan  untuk  mencegah khamir  dan  bakteri.  Natrium  Benzoat  dapat mengganggu  permeabilitas  membran  sel.Oleh  karena  itu  penelitian  ini  akan  dikaji tentang  konsentrasi  Natrium  Benzoat  dan Kalium Sorbat pada tandan buah sawit untuk menghambat  proses  hidrolisa  minyak penyebab  kenaikan  ALB  sebelum pengolahan  (Maulana, A.F,  2015). 
Menurut Cuppett (1994) dalam Manab.A, (2009)  Senyawa-senyawa  yang mampu untuk  mengontrol pertumbuhan mikroorganisme antara lain asam benzoat, sodium benzoat, asam sorbat, potassium sorbat dan asam propionate.

HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Kadar Asam Lemak Bebas (ALB)
Asam  Lemak  Bebas  (ALB)  secara  alami  berada  dalam  bentuk  gliserida.  Gliserida adalah ester dari asam-asam lemak dengan gliserol dengan nama umum  fat  (lemak). Pada waktu pertumbuhan dan perkembangan buah, lipase berperan di dalam sintesa gliserida dari asam lemak dan gliserol. Asam Lemak Bebas (ALB) dalam konsentrasi tinggi yang terikut dalam  minyak  sawit  sangat  merugikan.  Untuk  itulah  perlu  dilakukan  usaha  pencegahan terbentuknya asam lemak bebas dalam  minyak sawit. Kenaikan kadar ALB  ini disebabkan adanya reaksi hidrolisis pada minyak. Hasil reaksi hidrolisa miyak sawit adalah gliserol dan ALB. Reaksi ini akan dipercepat dengan adanya faktor  –  faktor panas, air, keasaman,  dan katalis oleh enzim lipase (Dewi L.C,2015).
Semakin  rendah  kadar ALB, air dan kotoran maka mutu minyak semakin baik. Apabila kadar air tinggi akan menyebabkan terjadinya  reaksi  hidrolisis  trigliserida  sehingga kadar ALB meningkat (Hasibuan H.A, 2012)
Gambar 1. Pengaruh Kalsium Propionat Terhadap Kadar ALB
 
Gambar 2. Pengaruh Natrium Benzoat Terhadap Kadar ALB
  
Gambar 1 merupakan hasil yang diperoleh dari pengaruh Kalsium Propionat terhadap kadar ALB. Kalsium  Propionat  berfungsi untuk melindungi dan mencegah dengan cara melapisi dinding sel sehingga dinding sel tersebut kokoh dan tidak pecah. Kalsium Propionat sendiri bertindak sebagai sumber ion Ca+ atau kalsium serta menjadi antimikroba. Seperti halnya antimikroba yang merupakan asam karboksilat lainya, asam propionat dalam bentuk tidak terdisosiasi. Dalam keadaan tidak terdisosiasi larutan tersebut lebih mudah menembus dinding  sel  mikroba (Maulana, A.F, 2015).
Reaksi hidrolisa merupakan reaksi pemutusan rantai trigliserida menjadi asam lemak bebas  dan  gliserol.  Reaksi  ini  terjadi  karena  adanya  pemutusan  rantai  oleh  enzim  lipase yang berada dalam sel dan atau berasal dari kapang serta dibantu dengan kadar air yang tinggi.  Reaksi  hidrolisa  sangat  tidak  diharapkan  karena  dapat  meningkatkan  asam  lemak bebas pada CPO sehingga dapat menurunkan mutunya. Oleh sebab itu diperlukan upaya untuk  menghambat reaksi  hidrolisa  yaitu  dengan  cara  menghambat  sistem  kerja  enzim lipase serta pertumbuhan mikroba (Maulana, A.F, 2015).
Semakin  tinggi  konsentrasi  Kalsium  Propionat  yang  diberikan maka ALB yang terbentuk semakin rendah. Secara alami ALB akan terus terbentuk dalam buah  kelapa  sawit  yang  sudah  dipanen,  dengan  disemprot  kedua  larutan  tersebut  maka akan  menghambat  kerja  enzim  lipase  dan  menghambat  pertumbuhan  mikroba  sehingga terhambatlah pembentukan ALB hasil dari reaksi hidrolisa lemak (Maulana, A.F, 2015).
Gambar 2 merupakan hasil yang diperoleh dari rerata kadar ALB akibat penambahan ke  16,  jam  ke  20  ,jam  ke  24.  Gambar  ini  menunjukkan hubungan  antara  kadar  ALB  terhadap  peningkatan  kombinasi  jumlah  konsentrasi  yang terbentuk  per  satuan  waktu.  Rerata  kadar  ALB  menurun  seiring  tingginya  penggunaaan konsentrasi  larutan  Natrium Benzoat.  Hal  ini  diduga  bahwa  dengan meningkatnya  penggunaan  konsentrasi  Natrium Benzoat menyebabkan proses hidrolisa lemak oleh enzim lipase semakin rendah. Hal ini disebabkan karena larutan Natrium Benzoat dapat menghambat aktivitas mikroorganisme penghasil lipase  dengan  mengganggu  permeabilitas  membran  sel  tersebut,  sehingga  dapat menghambat  proses  hidrolisa  lemak.  Kerja  enzim  dapat  dihambat  oleh  suatu  zat  dan kondisi.  Asam,  basa,  garam,  panas,  alkohol,  logam  berat,  dan  agen  pereduksi  dapat menghambat  kerja  enzim (Dewi L.C,2015).
Reaksi  hidrolisis  CPO  merupakan  reaksi  konversi  CPO  menjadi  asam  lemak  dan gliserol dengan adanya air dan dengan bantuan enzim lipase (Gambar 2) (Ketaren  S.  2008 dalam Dewi L.C, 2015). 
 Satu molekul trigliserida  (yang  dapat  berupa  minyak  atau  lemak)  akan  bereaksi  dengan  3  molekul  air menghasilkan 3 molekul asam lemak dan 1 molekul gliserol. Kecepatan reaksi hidrolisa pada minyak dan lemak dipengaruhi oleh  kandungan air dalam bahan pangan, dipercepat oleh basa, asam, suhu  tinggi dan tekanan  (Natalia, 2004 dalam Dewi L.C, 2015). Semakin tinggi  kandungan  air  dalam  bahan  pangan,  semakin  cepat  proses  hidrolisa  berlangsung, sehingga  terjadi  akumulasi  asam  lemak  bebas  (Ketaren  S.  2008 dalam Dewi L.C, 2015).  Karena  pentingnya  pengaruh konsentrasi  air  bagi  proses  hidrolisis  ini,  studi  pengaruh  penambahan  larutan  Natrium Benzoat dan  Kalsium  Propionat  terhadap  kecepatan  hidrolisis  dilakukan
2.  Kadar Air 
Air  merupakan  salah  satu  parameter  yang menentukan bahwa buah kelapa sawit telah matang atau  tidak.Sehingga  parameter  ini  cukup  penting untuk diuji dalam penelitian. Standar kadar air untuk buah  yang  matang  adalah  sebesar  27%. Karena  pentingnya  pengaruh konsentrasi  air  bagi  proses  hidrolisis  ini,  studi  pengaruh  penambahan  larutan  Natrium Benzoat kecepatan  hidrolisis  dilakukan (Ketaren 1986 dalam Iqbal Z, 2014).
Satu molekul trigliserida  (yang  dapat  berupa  minyak  atau  lemak)  akan  bereaksi  dengan  3  molekul  air menghasilkan 3 molekul asam lemak dan 1 molekul gliserol. Kecepatan reaksi hidrolisa pada minyak dan lemak dipengaruhi oleh  kandungan air dalam bahan pangan, dipercepat oleh basa, asam, suhu  tinggi dan tekanan  (Natalia, 2004 dalam Dewi L.C, 2015).
Gambar 3. Pengaruh Kalsium Propionat Terhadap Kadar Air
 
Gambar 4. Pengaruh Natrium Benzoat Terhadap Kadar Air
 
Reaksi  hidrolisis  CPO  merupakan  reaksi  konversi  CPO  menjadi  asam  lemak  dan Pada.Gambar 1 perlakuan  konsentrasi  larutan  kalsium  propionat  tidak  berbeda nyata.  Terlihat pada jam ke-16, jam ke-20 dan jam ke-24 kadar air cenderung menurun. Hal ini dikarenakan kadar air dari dalam buah kelapa sawit akan menguap ketika berada dalam  sterilizer  karena kedua bahan tersebut dilarutkan dalam air dan akan menguap mengingat suhu yang digunakan lebih dari 1250C dengan menggunakan tekanan sebesar 2.5 kg/cm2 s/d 4.0 kg/cm2selama 90 menit dan  menggunakan  sistem  triple  peak  (Sitepu, T., 2011 dalam Maulana, A.F, 2015). Titik  didih  kalsium  propionat  secara  berturut  adalah  141.10C  dan  1500C  (Wisnu,  C.  2006 dalam Maulana, A.F, 2015).
Dapat  dilihat pada Gambar 2 bahwa  makin  besar  konsentrasi  Natrium Benzoat,  maka  kadar  air  yang terbentuk  akan  semakin  rendah. Hal  ini  disebabkan  Natrium  Benzoat  dapat  menghambat khamir dan mikroorganisme dengan cara mengganggu metabolisme sel tersebut sehingga metabolisme tidak dapat berlangsung dan mikroba akan mati (Tranggono, 1990 dalam Dewi L.C, 2015). Selain itu Natrium Benzoat dapat  mengganggu  atau  menghalangi  jalannya  nutrien  masuk  kedalam  sel.  Selain  itu sampel  yang  telah  disemprot  dengan  larutan  Natrium  Benzoat  dan  Kalium  Sorbat dipanaskan  dengan  cara  di  sterilizer  untuk  mematikan  enzim  pada  buah  maupun  pada mikroorganisme serta menghilangkan air (Natalia, 2004 dalam Dewi L.C, 2015).
4. Rendemen
Untuk rendemen, kedua larutan tersebut juga tidak  berpengaruh  nyata dan interaksi yang  nyata  dikarenakan  range  konsentrasi  larutan  yang  disemprotkan  tidak  terlalu  besar. Indikator kualitas yang digunakan untuk menilai CPO adalah kandungan asam lemak bebas (ALB). Sehingga bila ALB meningkat, maka kualitas CPO turun. Kandungan ALB CPO sangat ditentukan oleh kualitas kelapa sawit atau buah sawit yang menjadi bahan bakunya (Ketaren  S.  2008 dalam Dewi L.C, 2015).  Rendemen minyak kelapa sawit berkisar antara 22-23% (Ketaren,  S.,  2005 dalam Dewi L.C, 2015 ) Besar kecilnya rendemen dipengaruhi oleh jenis buah kelapa sawit, tingkat kematangan buah, besar kecilnya ukuran buah, dan tahun tanam buah.
Mutu buah buruk yang diprediksi menyebabkan rendemen CPO rendah adalah buah mentah (unripe), buah lewat matang (over ripe), buah busuk dan atau janjang kosong (empty bunch), buah abnormal dan buah bergagang panjang (long stalk). Kecuali kelompok buah bergagang panjang semua kelompok mutu buah buruk memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan rendemen minyak. Kelompok empty bunch dan abnormal adalah dua kelompok mutu buah buruk yang pengaruhnya paling besar terhadap penurunan rendemen minyak daripada kelompok mutu buah buruk lainnya. Kelompok empty bunch adalah kelompok buah yang telah hampir 90% brondolannya telah lepas dari tandan atau telah terserang penyakit, artinya pengolahan buah empty bunch hanya akan menambah tonase TBS tanpa menghasilkan tambahan rendemen minyak karena tandan kosong tidaklah menghasilkan minyak. Buah abnormal adalah kelompok buah yang memiliki fruit set yeng rendah atau jumlah buah partenokarpinya lebih banyak daripada buah yang jadi (Lukito, A.P., 2013 dalam Maulana, A.F,2015).
Buah partenokarpi atau buah tidak sempurna disebabkan karena penyerbukan tidak sempurna atau tidak dapat dilakukan karena posisi buah yang terjepit oleh pelepah, sehingga menghasilkan buah dengan kandungan minyak yang rendah serta tidak memiliki cangkang dan endosperm. Kehilangan hasil produksi juga dapat menjadi faktor penurunan rendemen CPO, yaitu buah lepas tidak dikutip, restan (terlambat pengangkutan), dan buah matang tidak dipanen. Ketiga sumber kehilangan hasil tersebut dapat terjadi saat di kebun ataupun pengangkutan. Sebab-sebab lain kehilangan hasil yang diamatai di lapangan antara lain brondolan yang tercecer di pelepah, brondolan yang tercecer di jalan koleksi atau jalan utama saat pengangkutan, dan TBS yang terjatuh saat pengangkutan (Lukito, A.P., 2013 dalam Maulana, A.F,2015).
4. Kadar Kotoran
Menurut Dewi L.C (2015) Kadar   kotoran  adalah  bahan-bahan  tak  larut  dalam  minyak,  yang  dapat  disaring setelah  minyak  dilarutkan  dalam  suatu  pelarut  pada  kepekatan  10%. Menurut Maulana, A.F (2015) CPO dengan nomor 01-2901-2006 kadar kotoran maksimal adalah 0.5%. emantapan minyak sawit harus dijaga dengan cara membuang kotorannya. Hal ini dilakukan  dengan  peralatan  pemurnian  modern.  Pengawet  Kalsium Propionat dan  Natrium  Benzoat  merupakan  pelarut  organik  mempunyai  kelemahan  meninggalkan  residu.
Gambar 5. Pengaruh Kalsium Propionat Terhadap Kadar Kotoran
 
Gambar 6. Pengaruh Natrium Benzoat Terhadap Kadar Kotoran
 
Pada gambar 5 dan 6 di atas menunjukan Kalsium Propionat berpengaruh nyata terhadap kadar kotoran dan pada Natrium Benzoat penambahan jumlah konsentrasi mengalami peningkatan

DAFTAR PUSTAKA

Alfiah C, Susanto W.H. 2015. Penanganan 
Pasca Panen Kelapa Sawit (Penyemprotan CaCl2 danKalium Sorbat Terhadap Mutu Crude Palm Oil.  Jurnal  Vol.  3 No 1.

Devani V dan Marwiji. 2014. Analisis 
Kehilangan  Minyak  pada  Crude Palem  Oil  (CPO)  dengan Menggunakan  Metode  Statistikal Process  Control.  Jurnal   Vol. 13, No. 1.

Dewi L.C, Susanto W.H,
Maligan J.M.  2015. Penanganan Pasca Paanen Kelapa Sawit (Penyemprotan dengan Natrium    Benzoat dan Kalium Sobat Terhadap  Mutu CPO)  Jurnal  Vol. 3 No 2.

Purba I.R, Irsal, Meiriani. 2017. Hubungan 
Fraksi Kematangan Buah dan Ketinggian Tandan terhadap Jumlah Buah 
Memberondol pada Panen Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) 
di Kebun Rambutan PTPN III. Jurnal Vol.5.No.2.

Hasibuan A.H, Kajian Mutu danKrekteristik
MinyakSawit Idonesia serta Produk Fraksinya.. Jurnal Vol. 14, No. 1.

Iqbal Z., Herodian .S,. Widodos., 2014. 
Pendugaan Kadar Air dan Total
Karoten Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit Menggunakan NIR Spektroskopi.Jurnal Vol. 2, No. 2.

Larasati N., Chasanah S., Machmudah S., 
dan Winardi S. 2016. Studi Analisa Ekonomi Pabrik CPO (Crude Palm Oil) dan PKO (Palm Kernel Oil) Dari Buah Kelapa Sawit. Jurnal Vol. 5, No. 2.

Maulana, A.F, Susanto, W. H. 
2015.Pengaruh Penyemprotan  Larutan Kalsium  Propionat    dan  Kalium Sobat  pada  Pasca  Panen  Kelapa Sawita  (Elais  guineensis  Jacq) terhadap  Kualitas  CPO. Vol. 3 No 2.

Manab .A, 2009. Pengaruh Edibel Filem  
Protein Whey Mengandung Asm
Benzoat dan Propionat Terhadap Total Plate Cont, Colifrom dan Escherichia coli Keju Gouda. Jurnal   Vol. 4, No. 2

Renta. 2015. Analisis Optimalisasi
Pengadaan Tandan Buah Segar (TBS) Sebagai Bahan Baku Produksi Crude   Palm Oil (CP) dan Palm Karnel (PK) DI PMKS SEI KANDANG PT. ASIATIC PERSADA-AMS GROUP. jurnal Vol. V, No. 3.


Komentar