JURNAL PENGARUH PENYEMPROTAN LARUTAN KALSIUM PROPIONAT DAN NATRIUM BENZOAT PADA PASCA PANEN KELAPA SAWIT (Elais guineensis Jacq) TERHADAP KUALITAS CPO
PENGARUH PENYEMPROTAN LARUTAN KALSIUM PROPIONAT DAN NATRIUM BENZOAT PADA PASCA PANEN KELAPA SAWIT (Elais guineensis Jacq) TERHADAP KUALITAS CPO
Satrio Haryono
Jurusan Agroekoteknologi Fakultas Prtanian Universitas Sutan Ageng Tirtayasa
Jalan Raya Jakarta Km 4, Panancangan, Cipocok Jaya, Banjaragung, Kota Serang, Banten 42124
email: satrioharyono7@gmail.com
ABSTRAK
Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan yang sekarang ini banyak diusahakan baik oleh petani pekebun maupun perusahan. Buah kelapa sawit rentan mengalami restan dan kerusakan fisik serta mikrobiologi sehingga menyebabkan kualitas buah tersebut menurun sehingga kadar asam lemak bebas (ALB) menjadi naik dan perlu dilakukan perlakuan khusus salah satunya yaitu dengan menyemprot buah dengan larutan Kalsium Propionat dan Natrium Benzoat untuk menjaga mutu buahnya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh Kalsium Propionat dan Natrium Benzoat terhadap kualitas Crude Palm Oil (CPO). Hasil dari pengaruh penyemprotan Kalsium Propionat dan Natrium Benzoat dengan kadar 1000 ppm - 2000 ppm terhadap kadar ALB ke duanya berpengaruh nyata. Untuk kadar air pada Natrium Benzoat berpengaruh nyata, namun pada Kalsium Propionat tidak berpengaruh nyata. Pada perendaman ke duannya tidak berpengaruh nyata dan pada pengaruh penyemprotan Kalsium Propionat dan Natrium Benzoat terhadap kadar kotoran keduannya berpengaruh nyata.
Kata kunci: Buah Kelapa Sawit, Kadar ALB, Kalium Propionat, Natrium Benzoat, Penyemprotan.
ABSTRACT
The palm oil is a crop plantation that is a lot of attempts by both farmers one of the gardeners and the company. The fruit palm oil are prone to remnant and physical damage and microbiology, causing the fruit quality is declining so that levels of free fatty acids (ALB) to go up and it needs to do special treatment one of them is by spraying the fruit with a solution Calcium Propionat and Sodium Benzoat to keep the quality of the fruit. The purpose of this research is knowing the influence of Calcium Propionat and Sodium Benzoat on the quality of crude (CPO). As a result of the influence of spraying Calcium Propionat and Sodium Benzoat with high levels of 1000 ppm - 2000 parts per million of levels of ALB both influential real. For water levels, in Sodium Benzoat a real, but in Kalsium Propionat do not affect real. In soaking both do not affect real and on the impact of spraying Calcium Propionat and Sodium Benzoat to levels of dirt both influential real.
The key word : Fruit Palm Oil, The ALB, Potassium Propionat, Sodium Benzoat, The spraying.
PENDAHULUAN
Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan yang sekarang ini banyak diusahakan baik oleh petani pekebun maupun perusahan. Hasil panen utama dari tanamankelapa sawit adalah buah kelapa sawit yang disebut tandan buah segar (TBS). Tanaman kelapa sawit mulai berbunga dan membentuk buah pada umur 2-3 tahun. Memanen kelapa sawit merupakan salah satu kegiatan yang penting pada pengelolaan tanaman kelapa sawit, keberhasilan panen akan menunjang pencapaian produktivitas optimal, sebaliknya kegagalan panen akan menghambatnya. Panen memerlukan teknik tertentu agar mendapatkan hasil panen yang berkualitas (Madya, 2014 dalam Purba I.R, 2017)
Kelapa sawit (Elaeis guineensis ) merupakan komoditi yang ketersediaannya sangat banyak, tercatat berdasarkan Angka Sementara (ASEM) 2011 dari Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, luas areal kelapa sawit di Indonesia cenderung meningkat selama tahun 2000-2011. Kelapa sawit merupakan bahan baku dalam pengolahan Crude Palm Oil (CPO). Kualitas minyak kelapa sawit atau CPO dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : kadar Asam Lemak Bebas (ALB), kadar air, dan kadar kotoran (Dewi L.C, 2014). Prospektif keberlanjutan bisnis perkebunan kelapa sawit tidak perlu diragukan . Sejak 1911 ketika dimulai usaha perkebunan sawit di Sumatera Utara, bisnis tersebut terbukti masih bisa bertahan dan bahkan menjadi salah satu sektor komoditas andalan perekonomian Indonesia (Renta, 2015).
Pabrik Kelapa Sawit (PKS) merupakan pabrik yang mengolah kelapa sawit dengan metode dan aturan tertentu hingga menghasilkan Crude Palm Oil (CPO). Dalam proses pengolahan tersebut, perusahaan selalu berupaya untuk mengoptimalkan jumlah rendemen CPO. Salah satu sistem manajemen yang diterapkan untuk mendapatkan jumlah rendemen yang optimal adalah menekan terjadinya kehilangan minyak (oil losses) pada CPO selama proses produksi (Devani V, 2014).
Perkembangan selanjutnya adalah muncul pemikiran bahwa ekspor Crude Palm Oil dan Palm Kernel Oil akan sangat menguntungkan produsen minyak sawit mentah di Indonesia. Hal tersebut didukung dengan kapasitas produksi minyak sawit Indonesia yang cukup besar. Selain itu, permintaan pasar dunia yang terus meningkat akan minyak sawit serta ditunjang dengan banyaknya produk olahan yang merupakan turunan dari produksi Crude Palm Oil dan Palm Kernel Oil. Kenaikan harga minyak sawit mentah merupakan sebuah rangsangan utama bagi para pengusaha di Indonesia, adapun usaha peningkatan produksi kelapa sawit hingga saat ini terus dilakukan, baik secara intensifikasi maupun ekstensifikasi. Selain itu akan membuka lapangan kerja yang lebih luas dan akan mendorong berkembangnya industri minyak mentah (Crude Palm Oil dan Palm Kernel Oil) yang lebih adaptif dan inovatif. Selain itu perlunya penerapan strategi dalam mengahadapi persaingan pasar minyak CPO dan PKO. Dari aspek ekonomi, harganya relatif murah dibandingkan dengan olahan minyak nabati lainnya. Produksi Crude Palm Oil dan Palm Kernel Oil di Indonesia tahun 2013 mencapai 26 juta ton atau naik 1,9% dibanding 2012 sebanyak 26,5 juta ton. Sedangkan produksi 2014 jumlahnya di kisaran 27,5-28 juta ton. Sedangkan harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil) dan produk turunannya di pasar internasional mampu menembus US$ 1.100 per ton. Hal itu berpotensi mendongkrak ekspor CPO hingga ke level US$ 24,2 miliar (Larasat N., 2016).
Kadar ALB terbentuk akibat adanya reaksi hidrolisa pada minyak. Kelapa sawit pada saat pasca panen mengalami penurunan kadar trigliserida sebagai akibat dari proses hidrolisa lemak oleh enzim lipase menjadi gliserol dan ALB. Pada saat menunggu proses pengolahan menjadi CPO, kandungan minyak pada buah sawit mengalami penurunan rendemen yang signifikan. Faktor-faktor yang mempercepat pembentukan ALB setelah tandan dipotong dan sebelum direbus yaitu banyak buah yang rusak, banyak buah yang lepas (memberondol), lamanya pengangkutan, tingkat kematangan buah, dan pengumpulan buah yang tertunda. Pembentukan ALB juga dapat terjadi oleh adanya mikroorganisme pada keadaan lembab dan kotor (Dewi L.C, 2014).
Faktor yang mempercepat pembentukan ALB setelah tandan dipotong dan sebelum direbus yaitu banyak buah yangrusak; banyak buah yang lepas (memberondol); lamanya pengangkutan; tingkat kematangan buah; dan pengumpulan buah yang tertunda. Karena itu, metode selama penundaan masa tunggu proses produksi harus tepat agar kerusakan akibat buah memar dan kapang bisa diminimalisir, salah satunya menggunakan Natrium Benzoat dan kalium propionate (Maulana, A.F, 2015).
Natrium Benzoat merupakan suatu bahan kimia yang tidak berbau, berwarna putih dan dapat berbentuk kristal, tepung, bersifat irritant. Penggunaan Natrium Benzoat dimaksudkan untuk mencegah khamir dan bakteri. Natrium Benzoat dapat mengganggu permeabilitas membran sel.Oleh karena itu penelitian ini akan dikaji tentang konsentrasi Natrium Benzoat dan Kalium Sorbat pada tandan buah sawit untuk menghambat proses hidrolisa minyak penyebab kenaikan ALB sebelum pengolahan (Maulana, A.F, 2015).
Menurut Cuppett (1994) dalam Manab.A, (2009) Senyawa-senyawa yang mampu untuk mengontrol pertumbuhan mikroorganisme antara lain asam benzoat, sodium benzoat, asam sorbat, potassium sorbat dan asam propionate.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Kadar Asam Lemak Bebas (ALB)
Asam Lemak Bebas (ALB) secara alami berada dalam bentuk gliserida. Gliserida adalah ester dari asam-asam lemak dengan gliserol dengan nama umum fat (lemak). Pada waktu pertumbuhan dan perkembangan buah, lipase berperan di dalam sintesa gliserida dari asam lemak dan gliserol. Asam Lemak Bebas (ALB) dalam konsentrasi tinggi yang terikut dalam minyak sawit sangat merugikan. Untuk itulah perlu dilakukan usaha pencegahan terbentuknya asam lemak bebas dalam minyak sawit. Kenaikan kadar ALB ini disebabkan adanya reaksi hidrolisis pada minyak. Hasil reaksi hidrolisa miyak sawit adalah gliserol dan ALB. Reaksi ini akan dipercepat dengan adanya faktor – faktor panas, air, keasaman, dan katalis oleh enzim lipase (Dewi L.C,2015).
Semakin rendah kadar ALB, air dan kotoran maka mutu minyak semakin baik. Apabila kadar air tinggi akan menyebabkan terjadinya reaksi hidrolisis trigliserida sehingga kadar ALB meningkat (Hasibuan H.A, 2012)
Gambar 1. Pengaruh Kalsium Propionat Terhadap Kadar ALB
Gambar 2. Pengaruh Natrium Benzoat Terhadap Kadar ALB
Gambar 1 merupakan hasil yang diperoleh dari pengaruh Kalsium Propionat terhadap kadar ALB. Kalsium Propionat berfungsi untuk melindungi dan mencegah dengan cara melapisi dinding sel sehingga dinding sel tersebut kokoh dan tidak pecah. Kalsium Propionat sendiri bertindak sebagai sumber ion Ca+ atau kalsium serta menjadi antimikroba. Seperti halnya antimikroba yang merupakan asam karboksilat lainya, asam propionat dalam bentuk tidak terdisosiasi. Dalam keadaan tidak terdisosiasi larutan tersebut lebih mudah menembus dinding sel mikroba (Maulana, A.F, 2015).
Reaksi hidrolisa merupakan reaksi pemutusan rantai trigliserida menjadi asam lemak bebas dan gliserol. Reaksi ini terjadi karena adanya pemutusan rantai oleh enzim lipase yang berada dalam sel dan atau berasal dari kapang serta dibantu dengan kadar air yang tinggi. Reaksi hidrolisa sangat tidak diharapkan karena dapat meningkatkan asam lemak bebas pada CPO sehingga dapat menurunkan mutunya. Oleh sebab itu diperlukan upaya untuk menghambat reaksi hidrolisa yaitu dengan cara menghambat sistem kerja enzim lipase serta pertumbuhan mikroba (Maulana, A.F, 2015).
Semakin tinggi konsentrasi Kalsium Propionat yang diberikan maka ALB yang terbentuk semakin rendah. Secara alami ALB akan terus terbentuk dalam buah kelapa sawit yang sudah dipanen, dengan disemprot kedua larutan tersebut maka akan menghambat kerja enzim lipase dan menghambat pertumbuhan mikroba sehingga terhambatlah pembentukan ALB hasil dari reaksi hidrolisa lemak (Maulana, A.F, 2015).
Gambar 2 merupakan hasil yang diperoleh dari rerata kadar ALB akibat penambahan ke 16, jam ke 20 ,jam ke 24. Gambar ini menunjukkan hubungan antara kadar ALB terhadap peningkatan kombinasi jumlah konsentrasi yang terbentuk per satuan waktu. Rerata kadar ALB menurun seiring tingginya penggunaaan konsentrasi larutan Natrium Benzoat. Hal ini diduga bahwa dengan meningkatnya penggunaan konsentrasi Natrium Benzoat menyebabkan proses hidrolisa lemak oleh enzim lipase semakin rendah. Hal ini disebabkan karena larutan Natrium Benzoat dapat menghambat aktivitas mikroorganisme penghasil lipase dengan mengganggu permeabilitas membran sel tersebut, sehingga dapat menghambat proses hidrolisa lemak. Kerja enzim dapat dihambat oleh suatu zat dan kondisi. Asam, basa, garam, panas, alkohol, logam berat, dan agen pereduksi dapat menghambat kerja enzim (Dewi L.C,2015).
Reaksi hidrolisis CPO merupakan reaksi konversi CPO menjadi asam lemak dan gliserol dengan adanya air dan dengan bantuan enzim lipase (Gambar 2) (Ketaren S. 2008 dalam Dewi L.C, 2015).
Satu molekul trigliserida (yang dapat berupa minyak atau lemak) akan bereaksi dengan 3 molekul air menghasilkan 3 molekul asam lemak dan 1 molekul gliserol. Kecepatan reaksi hidrolisa pada minyak dan lemak dipengaruhi oleh kandungan air dalam bahan pangan, dipercepat oleh basa, asam, suhu tinggi dan tekanan (Natalia, 2004 dalam Dewi L.C, 2015). Semakin tinggi kandungan air dalam bahan pangan, semakin cepat proses hidrolisa berlangsung, sehingga terjadi akumulasi asam lemak bebas (Ketaren S. 2008 dalam Dewi L.C, 2015). Karena pentingnya pengaruh konsentrasi air bagi proses hidrolisis ini, studi pengaruh penambahan larutan Natrium Benzoat dan Kalsium Propionat terhadap kecepatan hidrolisis dilakukan
2. Kadar Air
Air merupakan salah satu parameter yang menentukan bahwa buah kelapa sawit telah matang atau tidak.Sehingga parameter ini cukup penting untuk diuji dalam penelitian. Standar kadar air untuk buah yang matang adalah sebesar 27%. Karena pentingnya pengaruh konsentrasi air bagi proses hidrolisis ini, studi pengaruh penambahan larutan Natrium Benzoat kecepatan hidrolisis dilakukan (Ketaren 1986 dalam Iqbal Z, 2014).
Satu molekul trigliserida (yang dapat berupa minyak atau lemak) akan bereaksi dengan 3 molekul air menghasilkan 3 molekul asam lemak dan 1 molekul gliserol. Kecepatan reaksi hidrolisa pada minyak dan lemak dipengaruhi oleh kandungan air dalam bahan pangan, dipercepat oleh basa, asam, suhu tinggi dan tekanan (Natalia, 2004 dalam Dewi L.C, 2015).
Gambar 3. Pengaruh Kalsium Propionat Terhadap Kadar Air
Gambar 4. Pengaruh Natrium Benzoat Terhadap Kadar Air
Reaksi hidrolisis CPO merupakan reaksi konversi CPO menjadi asam lemak dan Pada.Gambar 1 perlakuan konsentrasi larutan kalsium propionat tidak berbeda nyata. Terlihat pada jam ke-16, jam ke-20 dan jam ke-24 kadar air cenderung menurun. Hal ini dikarenakan kadar air dari dalam buah kelapa sawit akan menguap ketika berada dalam sterilizer karena kedua bahan tersebut dilarutkan dalam air dan akan menguap mengingat suhu yang digunakan lebih dari 1250C dengan menggunakan tekanan sebesar 2.5 kg/cm2 s/d 4.0 kg/cm2selama 90 menit dan menggunakan sistem triple peak (Sitepu, T., 2011 dalam Maulana, A.F, 2015). Titik didih kalsium propionat secara berturut adalah 141.10C dan 1500C (Wisnu, C. 2006 dalam Maulana, A.F, 2015).
Dapat dilihat pada Gambar 2 bahwa makin besar konsentrasi Natrium Benzoat, maka kadar air yang terbentuk akan semakin rendah. Hal ini disebabkan Natrium Benzoat dapat menghambat khamir dan mikroorganisme dengan cara mengganggu metabolisme sel tersebut sehingga metabolisme tidak dapat berlangsung dan mikroba akan mati (Tranggono, 1990 dalam Dewi L.C, 2015). Selain itu Natrium Benzoat dapat mengganggu atau menghalangi jalannya nutrien masuk kedalam sel. Selain itu sampel yang telah disemprot dengan larutan Natrium Benzoat dan Kalium Sorbat dipanaskan dengan cara di sterilizer untuk mematikan enzim pada buah maupun pada mikroorganisme serta menghilangkan air (Natalia, 2004 dalam Dewi L.C, 2015).
4. Rendemen
Untuk rendemen, kedua larutan tersebut juga tidak berpengaruh nyata dan interaksi yang nyata dikarenakan range konsentrasi larutan yang disemprotkan tidak terlalu besar. Indikator kualitas yang digunakan untuk menilai CPO adalah kandungan asam lemak bebas (ALB). Sehingga bila ALB meningkat, maka kualitas CPO turun. Kandungan ALB CPO sangat ditentukan oleh kualitas kelapa sawit atau buah sawit yang menjadi bahan bakunya (Ketaren S. 2008 dalam Dewi L.C, 2015). Rendemen minyak kelapa sawit berkisar antara 22-23% (Ketaren, S., 2005 dalam Dewi L.C, 2015 ) Besar kecilnya rendemen dipengaruhi oleh jenis buah kelapa sawit, tingkat kematangan buah, besar kecilnya ukuran buah, dan tahun tanam buah.
Mutu buah buruk yang diprediksi menyebabkan rendemen CPO rendah adalah buah mentah (unripe), buah lewat matang (over ripe), buah busuk dan atau janjang kosong (empty bunch), buah abnormal dan buah bergagang panjang (long stalk). Kecuali kelompok buah bergagang panjang semua kelompok mutu buah buruk memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan rendemen minyak. Kelompok empty bunch dan abnormal adalah dua kelompok mutu buah buruk yang pengaruhnya paling besar terhadap penurunan rendemen minyak daripada kelompok mutu buah buruk lainnya. Kelompok empty bunch adalah kelompok buah yang telah hampir 90% brondolannya telah lepas dari tandan atau telah terserang penyakit, artinya pengolahan buah empty bunch hanya akan menambah tonase TBS tanpa menghasilkan tambahan rendemen minyak karena tandan kosong tidaklah menghasilkan minyak. Buah abnormal adalah kelompok buah yang memiliki fruit set yeng rendah atau jumlah buah partenokarpinya lebih banyak daripada buah yang jadi (Lukito, A.P., 2013 dalam Maulana, A.F,2015).
Buah partenokarpi atau buah tidak sempurna disebabkan karena penyerbukan tidak sempurna atau tidak dapat dilakukan karena posisi buah yang terjepit oleh pelepah, sehingga menghasilkan buah dengan kandungan minyak yang rendah serta tidak memiliki cangkang dan endosperm. Kehilangan hasil produksi juga dapat menjadi faktor penurunan rendemen CPO, yaitu buah lepas tidak dikutip, restan (terlambat pengangkutan), dan buah matang tidak dipanen. Ketiga sumber kehilangan hasil tersebut dapat terjadi saat di kebun ataupun pengangkutan. Sebab-sebab lain kehilangan hasil yang diamatai di lapangan antara lain brondolan yang tercecer di pelepah, brondolan yang tercecer di jalan koleksi atau jalan utama saat pengangkutan, dan TBS yang terjatuh saat pengangkutan (Lukito, A.P., 2013 dalam Maulana, A.F,2015).
4. Kadar Kotoran
Menurut Dewi L.C (2015) Kadar kotoran adalah bahan-bahan tak larut dalam minyak, yang dapat disaring setelah minyak dilarutkan dalam suatu pelarut pada kepekatan 10%. Menurut Maulana, A.F (2015) CPO dengan nomor 01-2901-2006 kadar kotoran maksimal adalah 0.5%. emantapan minyak sawit harus dijaga dengan cara membuang kotorannya. Hal ini dilakukan dengan peralatan pemurnian modern. Pengawet Kalsium Propionat dan Natrium Benzoat merupakan pelarut organik mempunyai kelemahan meninggalkan residu.
Gambar 5. Pengaruh Kalsium Propionat Terhadap Kadar Kotoran
Gambar 6. Pengaruh Natrium Benzoat Terhadap Kadar Kotoran
Pada gambar 5 dan 6 di atas menunjukan Kalsium Propionat berpengaruh nyata terhadap kadar kotoran dan pada Natrium Benzoat penambahan jumlah konsentrasi mengalami peningkatan
DAFTAR PUSTAKA
Alfiah C, Susanto W.H. 2015. Penanganan
Pasca Panen Kelapa Sawit (Penyemprotan CaCl2 danKalium Sorbat Terhadap Mutu Crude Palm Oil. Jurnal Vol. 3 No 1.
Devani V dan Marwiji. 2014. Analisis
Kehilangan Minyak pada Crude Palem Oil (CPO) dengan Menggunakan Metode Statistikal Process Control. Jurnal Vol. 13, No. 1.
Dewi L.C, Susanto W.H,
Maligan J.M. 2015. Penanganan Pasca Paanen Kelapa Sawit (Penyemprotan dengan Natrium Benzoat dan Kalium Sobat Terhadap Mutu CPO) Jurnal Vol. 3 No 2.
Purba I.R, Irsal, Meiriani. 2017. Hubungan
Fraksi Kematangan Buah dan Ketinggian Tandan terhadap Jumlah Buah
Memberondol pada Panen Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq)
di Kebun Rambutan PTPN III. Jurnal Vol.5.No.2.
Hasibuan A.H, Kajian Mutu danKrekteristik
MinyakSawit Idonesia serta Produk Fraksinya.. Jurnal Vol. 14, No. 1.
Iqbal Z., Herodian .S,. Widodos., 2014.
Pendugaan Kadar Air dan Total
Karoten Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit Menggunakan NIR Spektroskopi.Jurnal Vol. 2, No. 2.
Larasati N., Chasanah S., Machmudah S.,
dan Winardi S. 2016. Studi Analisa Ekonomi Pabrik CPO (Crude Palm Oil) dan PKO (Palm Kernel Oil) Dari Buah Kelapa Sawit. Jurnal Vol. 5, No. 2.
Maulana, A.F, Susanto, W. H.
2015.Pengaruh Penyemprotan Larutan Kalsium Propionat dan Kalium Sobat pada Pasca Panen Kelapa Sawita (Elais guineensis Jacq) terhadap Kualitas CPO. Vol. 3 No 2.
Manab .A, 2009. Pengaruh Edibel Filem
Protein Whey Mengandung Asm
Benzoat dan Propionat Terhadap Total Plate Cont, Colifrom dan Escherichia coli Keju Gouda. Jurnal Vol. 4, No. 2
Renta. 2015. Analisis Optimalisasi
Pengadaan Tandan Buah Segar (TBS) Sebagai Bahan Baku Produksi Crude Palm Oil (CP) dan Palm Karnel (PK) DI PMKS SEI KANDANG PT. ASIATIC PERSADA-AMS GROUP. jurnal Vol. V, No. 3.
Komentar
Posting Komentar